please wait

SMK Wikrama Bogor Ajak Industri Bahas Konsep Teaching Factory


SMK WIKRAMA BOGOR - Teaching Factory (TEFA) saat ini menjadi konsep pembelajaran di SMK yang mendukung Peraturan Pemerintah nomor 29 tahun 1990 pasal 29 ayat 2 yaitu untuk mempersiapkan siswa sekolah menengah kejuruan menjadi tenaga kerja, sehingga dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara profesional. Karena itu, konsep teaching factory diadakan untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri.Tidak ingin tertinggal, SMK Wikrama Bogor mulai mengambil langkah seribu menjalankan konsep pembelajaran TEFA  tersebut yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan karakter dan etos kerja siswa SMK Wikrama Bogor agar sesuai  dengan kebutuhan DU/DI serta membekali kemampuan memproduksi barang/jasa tidak hanya sekedar membekali kompetensi.

Sehingga, pada Rabu, 1 Agustus 2018 lalu, SMK Wikrama Bogor mengadakan kegiatan Workshop pengenalan dan pemahaman konsep TEFA yang melibatkan seluruh guru, asisten, maupun laboran di SMK Wikrama Bogor, dengan mendatangkan narasumber dari bidang pendidikan maupun industri.Narasumber dari bidang pendidikan diantaranya dari Direktorat Pembinaan SMK Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Bapak Rohana, lalu dari Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat wilayah 2, Bapak I Made Supriatna, pengawas SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Eddy Permana serta perwakilan dari sekolah-sekolah yang sebelumnya sudah menerapkan konsep TEFA di sekolahnya, yaitu SMKN 1 Bogor, SMKN 3 Bogor, serta SMKN 1 Pacet Cianjur.Tidak hanya dari bidang pendidikan, Industri pun turut diundang sebagai narasumber diantaranya,PT Batam Bintan Telekomunikasi, PT. Karya Karunia Solusi, PT. Sarana Integrasi Prima (Goesar Optix), serta PT. Jetcoms Netindon.

 Kepala SMK Wikrama Bogor, Iin Mulyani S.Si, berharap dengan adanya workshop ini dapat menyamaratakan pemahaman konsep TEFA kepada guru, asisten, laboran di SMK Wikrama Bogor maupun antara sekolah dengan industri. “Karena jika konsep sudah bisa dipahami, kita bisa menerapkannya di sekolah sehingga lulusan SMK Wikrama dapat lebih banyak lagi yang terserap di industri, karena hal tersebut yang saat ini dilihat pemerintah sebagai outcome dari adanya sebuah SMK,”tuturnya. (IU)